Contoh Proposal Pengajuan Kredit

I. RINGKASAN PROPOSAL
Uraikan dengan singkat isi proposal terkait dengan:
– Siapa yang mengajukan?
– Bagaimana prospek pasarnya?
– Bagaimana proses usaha taninya?
– Apa rencana pengembangan usaha yang akan dilakukan?
– Berapa kebutuhan modal kerja dan investasi, proyeksi laba/rugi usaha dan analisa keuangannya.

II. PROFIL KELOMPOK TANI/KOPERASI
2.1. Gambaran Ringkas Kelompok Tani/Koperasi
Apa nama kelompok tani/koperasi, kapan didirikan, oleh siapa, dimana, alamat kantornya, berapa anggotanya, apa saja usahanya.
2.2. Stuktur Organisasi dan Profil Pengurus
Bagaimana struktur organisasi di dalam kelompok tani/koperasi, bagaimana susunan pengurusnya, siapa saja pengurusnya?
III. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
3.1. Produk
Bawang merah merupakan tanaman semusim (Tanaman setahun), yang dimanfaatkan adalah umbinya yang berlapis-lapis yang sebenarnya merupakan pangkal daun yang bagian atasnya berbentuk silinder dan dari pangkal daun sampai bagian yang ada akarnya berubah bentuk dan membengkak menjadi umbi yang berlapis-lapis.
3.2. Permintaan dan Penawaran
Permintaan Bawang Merah
Permintaan bawang merah bersumber dari permintaan dalam negeri dan permintaan luar negeri. Permintaan dalam negeri terhadap bawang merah datang dari berbagai sumber yaitu :
 Dari pasar bawang merah segar untuk memenuhi permintaan keperluan rumah tangga. Bawang rah merupakan tanaman sayuran yang banyak digunakan oleh keluarga masyarakat Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan. Selain itu juga sering dipakai sebagai bahan obat-obatan untuk penyakit tertentu;
 Permintaan terhadap bawang merah terbesar dari rumah tangga (keluarga, restoran, hotel dan lain-lain).
 Permintaan yang datang untuk memenuhi keperluan industri olah lanjut yang menggunakan bawang merah sebagai bahan baku misalnya untuk industri bawang goreng.

Besarnya jumlah permintaan tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :
• Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
• Pendapatan rumah tangga;
• Harga bawang yang berlaku di pasar enceran;
• Harga barang komplemen yang lain;
• Harga barang turunan dari produk bawang merah;
• Hari-hari besar di mana permintaan terhadap bawang merah segar cendrung meningkat. Permintaan terhadap bawang merah selain untuk keperluan bawang merah segar juga diperlukan untuk keperluan industri olah lanjut yaitu industri bawang goreng.
Permintaan bawang merah juga berasal dari luar negeri, sehingga komoditas bawang merah dapat diekspor. Besarnya permintaan terhadap bawang merah yang datang dari luar negeri dapat dilihat dari kecendrungan meningkatnya ekspor mata dagangan ini.
Penawaran Bawang Merah
Besarnya jumlah penawaran bawang merah sangat dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut:
1) Ketersediaan lokasi yang sangat cocok untuk bercocok tanam bawang merah dan atau luas panen;
2) Iklim;
3) Teknologi budidaya;
4) Harga faktor produksi.
Besarnya penawaran bawang merah dapat dikaitkan dengan produksi bawang merah di Indonesia yang hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Produk bawang merah mengalami kenaikan dengan trend yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Daerah penghasil bawang merah terbesar adalah Pulau Jawa terutama Jawa Tengah dengan produksi ………. ton pada tahun 2007, disusul Jawa Timur sebesar …… ton dan Jawa Barat …… ton pada tahun yang sama. Daerah lain di pulau Jawa yaitu di Sumatera Utara (terutama di Pulau Samosir, danau Toba), Bali, Lombok, Lampung, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan daerah lain. Untuk tingkat Kabupaten, Brebes merupakan daerah penghasil terbanyak dengan jumlah ……….. ton atau sekitar 22% dari total produksi seluruh Indonesia.
Bilamana jumlah produksi bawang merah dalam negeri dianggap kurang memenuhi besarnya permintaan, kekurangan pasokan dimaksud dipenuhi oleh impor bawang merah dari luar negeri khususnya berasal dari (Filipina, Taiwan, China). Impor tersebut tidak saja untuk konsumsi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan bibit.
3.3. Harga
Harga bawang merah di dalam merah negeri mengalami fluktuasi sesuai dengan kondisi penawaran dan permintaan pada saat itu. Tingginya nilai tukar dollar Amerika terhadap Rupiah memperngaruhi semua harga komodoti pertanian termasuk bawang merah. Pada saat sekarang, harga rata-rata bawang lokal di beberapa daerah produsen sekitar Rp. 6.000 – Rp. 8.000 per kg untuk bawang kering konsumsi. Sedangkan untuk bawang bibit berkisar Rp. 10.000 – 12.500 per kg. Harga ini bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, sehingga arus perdagangan bawang merah dapat beralih dari Jawa ke Sumatera. Pergerakan bawang merah antar provinsi/pulau sesuai perbedaan harga ini juga dialami oleh komoditi lain terutama cabai merah.
Harga bawang ex. Impor untuk konsumsi di tingkat pedagang sebesar Rp. 6.400 per kg (ex. India), dan Rp. 8,750 per kg (ex. Vietnam). Bawang bibit ex. Philipina Rp. 15.000 kg, dan ex. Thailand Rp. 12.000 per kg. Para konsumen umumnya lebih memilih bawang lokal karena rasa dan aroma yang lebih tajam.
Untuk analisa keuangan dalam MK PKT ini akan digunakan harga di tingkat petani sebesar Rp. 3.500 kg bawang basah.
3.4. Jalur Distribusi Penjualan Bawang Merah
Jalur distribusi penjualan bawang merah dapat dilihat pada Gambar 3.1.

IV. ASPEK PRODUKSI/OPERASIONAL
4.1. Lokasi Usaha
Budidaya bawang merah ini akan dilakukan di Desa Mina Tani, Kecamatan Tani Makmur, Kabupaten Sejahtera. Budidaya akan dilakukan pada lahan seluas 10 hektar yang dimiliki oleh Kelompok Tani Hidup Petaniku. Anggota Kelompok Hidup Taniku sebanyak 10 orang, sehingga rata-rata petani akan mengelola lahan seluas 1 hektar.
4.2. Proses Produksi
Proses produksi budidaya bawang merah terdiri dari pengolahan lahan, pembuatan bedengan, penyediaan bibit, sampai dengan pemeliharaan tanaman dan panen.
1) Pengolahan Lahan
Bertujuan untuk menciptakan tanah sebagai media tumbuh tanaman menjadi gembur sehingga tanah seperti ini akan dapat menunjang pertumbuhan akar dengan baik sedini mungkin. Disamping itu pengolahan tanah juga dimaksudkan untuk dapat menciptakan iklim makro dari tanah seperti yang dikemukakan dalam tabel 4.1 di atas juga dimaksudkan untuk membasmi sisa-sisa gulma
2) Pembuatan Bedengan
Setelah struktur tanah yang gembur dapat diciptakan, pekerjaan selanjutnya yaitu membuat bedengan-bedengan sesuai dengan ukuran yang dikehendaki serta arah bedengan yang benar. Ukuran bedengan yang pas adalah lebarnya 80 – 100 cm dengan ketinggian bedeng 30 – 50 cm; panjang bedengan disesuaikan dengan ukuran lahan setempat. Sedangkan jarak antara 1 (satu) bedengan dengan bedengan lainnya (lebar parit) adalah 30 – 40 cm. Arah memanjang bedengan tegak lurus dari arah/alur irigasi pokoknya.
3) Penyediaan Bibit
Bibit merupakan awal dari keberhasilan atau kegagalan. Oleh karena itu bibit haruslah bibit yang sehat yang telah melewati masa dorman selama 3 – 4 bulan, dan akar telah mulai keluar. Umbi masih terasa padat, utuh dan tidak cacat. Sehari sebelum tanam, dilakukan pemotongan sepertiga dari pucuknya dengan maksud untuk mempercepat pertumbuhan umbi dan tumbuhnya tunas dan umbi. Dasar pemilihan bibit yang baik lainnya adalah sebagai berikut :
a. Siung bawang merah yang akan dijadikan bibit sudah harus mengalami penyimpanan selama 3 bulan sejak dipanen
b. Diameter siung sebesar 1,5 – 2 cm
c. Keadaan umbi/siung harus merupakan bawang merah yang utuh bulat, padat, keras dan mengkilat dengan kadar air sebesar 80%.
d. Di panen dari tanaman yang telah berumur dari 70 hari
e. Setiap siung yang ditanam akan mampu menghasilkan hasil panen 4 – 6 siung anakan.
f. Untuk luas tanam 1 ha memerlukan bibit berkisar antara 800 s/d 1200 Kg. Bibit bawang merah yang sangat dianjurkan untuk digunakan adalah jenis/varietas bawang merah Ampenan, Sumenep, Maja, Kuningan dan Medan.

4) Penanaman Bibit
Sebelum tanam, diatas bedengan dibuat alur tanam untuk tanah yang relatif subur dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dengan kedalaman tanam 2 – 3 cm.
5) Pemupukan Awal
Bilamana pupuk kandang mudah didapat maka setiap hektar lahan memerlukan sebanyak 15 – 20 ton pupuk kandang yang harus dicampur merata dengan tanah sewaktu pekerjaan mempersiapkan bedengan.
6) Pemeliharaan Tanaman
7) Panen

4.3. Bahan Baku dan Penolong yang Digunakan
Bahan baku utama dalam proses budidaya bawang merah adalah bibit. Bibit bawang merah menggunakan varietas unggul yang biasanya merupakan jenis/varietas bawang merah Ampenan, Sumenep, Maja, Kuningan dan Medan.
Bahan penolong dalam budidaya bawang merah adalah pupuk dan insektisida. Pupuk yang digunakan adalah:
4.4. Peralatan 
Apa saja peralatan yang digunakan, berapa jumlahnya, berapa nilainya, bagaimana kemampuan kapasitas produksi peralatan tersebut?
V. ASPEK SUMBERDAYA MANUSIA
Jelaskan jumlah tenaga kerja yang saat ini digunakan, berapa upahnya atau gajinya, bagaimana tingkat pendidikan mereka.
VI. RENCANA BISNIS
6.1. Rencana Produksi/Operasional
Berapa kapasitas produksi yang ingin dikembangkan berdasarkan potensi pasar dan kemampuan yang dimiliki? Jumlahnya berapa, nilainya berapa, dan bagaimana cara mencapainya? Apa saja kebutuhan sarana dan prasarana produksi yang diperlukan untuk mengembangkan usahanya, termasuk berapa jumlah dan nilainya.
6.2. Rencana Pemasaran
Bagaimana rencana pemasaran hasil produksinya? Ke mana sasaran wilayah pemasaran, siapa konsumennya? Strategi apa saja yang akan dilakukan untuk memasarkan hasil produksi?
6.3. Rencana Kebutuhan SDM
Jelaskan rencana kebutuhan SDM terkait dengan penambahan kapasitas produksi dan pemasaran, berapa tambahan tenaga kerja yang dibutuhkan, apa kualifikasinya, berapa upahnya atau gajinya?
6.3. Rencana Pendanaan
Bagaimana cara memperoleh pendanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran, siapa yang akan membiayai pengembangan produksi dan pemasaran?
VII. ASPEK KEUANGAN 
7.1. Analisa Kebutuhan Modal Kerja dan Investasi
Buatlah rincian kebutuhan modal kerja untuk pengembangan produksi dan pemasaran, misal: kebutuhan bahan baku dalam jumlah dan nilainya, kebutuhan bahan penolong dalam jumlah dan nilainya. Contoh: kebutuhan bibit, pupuk, dan lain-lain.
Buatkah rincian kebutuhan investasi untuk pengembangan produksi dan pemasaran, misal: peralatan produksi dalam jumlah dan nilainya.
7.2. Proyeksi Laba (Rugi) dan Arus Kas
Berdasarkan rencana produksi dan pemasaran, kebutuhan modal kerja dan investasi, susunlah proyeksi Laba/Rugi per siklus usaha, per tahun sampai tiga tahun atau lima tahun ke depan sesuai permintaan perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Laba/Rugi meliputi rincian sumber pendapatan beserta nilainya dan sumber pengeluaran beserta nilainya. Selisih pendapatan dengan pengeluaran adalah laba (rugi) usaha.
Buatlah proyeksi Arus Kas per siklus usaha, per tahun sampai tiga tahun atau lima tahun ke depan sesuai permintaan perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Proyeksi arus kas meliputi arus kas masuk dan arus kas keluar. Arus kas masuk dapat berasal dari: kas awal, penerimaan penjualan, penerimaan piutang, penerimaan dari kredit bank, dana sendiri. Arus kas keluar dapar berasal dari: pengeluaran investasi, pengeluaran modal kerja, biaya produksi, pembelian bibit, pupuk, saran produksi, biaya operasional, angsuran kredit, pajak.
7.3. Analisa Kelayakan Usaha
Buatlah analisa kelayakan usaha tersebut berdasarkan beberapa kriteria:
 Return on Investment (ROI): rasio antara pendapatan bersih usaha dibandingkan dengan total investasi yang dikeluarkan.
 Return on Asset (ROA): rasio antara pendapatan bersih usaha dibandingkan dengan total aset yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut.
 Net Present Value (NPV): nilai bersih saat ini dari proyeksi penerimaan-penerimaan usaha yang dikerjakan.
 Internal Rate of Return (IRR): mengukur tingkat bunga tertinggi yang mampu ditanggung oleh usaha yang akan dibiayai.

 

sumber:http://duniamikro.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: